Webindoshop Blog

Blog of www.webindoshop.com - The Indonesian Shopping Website

Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us

Join Us at Facebook
25.8.09

Sejarah Distro [another version]

Diposkan oleh webindoshop

Sejak pertengahan ‘90-an, di Kota Bandung memang bermunculan beberapa komunitas yang menjadi produsen sekaligus pelanggan tetap beberapa toko kecil - sebutlah distro - yang menjual barang-barang yang tidak ditemui di kebanyakan toko, shooping mall, dan factory outlet yang kini juga tengah menjamur di Kota Bandung. Berbekal modal seadanya, ditambah dengan hubungan pertemanan dan sedikit kemampuan untuk membuat dan memasarkan produk sendiri, kemunculan toko-toko semacam ini kemudian tidak hanya menandai perkembangan scene anak muda di Kota Bandung, tetapi juga kota-kota lain semisal Jakarta, Yogyakarta, Surabaya.

Perkembangan ini dimulai di sebuah studio musik, Reverse di daerah Sukasenang. Pada perkembangannya dapat dikatakan sebagai cikal bakal yang penting bagi perkembangan komunitas anak muda di Kota Bandung pada awal era ‘90-an. Di awal kemunculannya pada sekitar tahun ‘94, semula Richard, Helvi, dan Dxxxt (3 orang pendiri pertama dari Reverse), hanya memasarkan produk-produk spesifik yang terutama diminati oleh komunitas penggemar musik rock dan skateboard.

Komunitas ini kemudian merupakan simpul pertama bagi perkembangan komunitas ataupun kelompok subkultur anak muda pada saat itu. Ketika semakin berkembang, Reverse kemudian menjadi sebuah distro yang mulai menjual CD, kaset, poster, artwork, asesoris, termasuk barang-barang impor maupun barang buatan lokal lainnya.Kemudian bermunculan sederet komunitas baru yang lebih spesifik lagi. Dari yang semula hanya didatangi oleh penggemar musik rock dan komunitas skateboard, Reverse mulai didatangi oleh beberapa kelompok yang berasal dari scene yang lain.

Dari yang meminati musik pop, metal, punk, hardcore, sampai pada kelompok skater, bmx, surf dan lain sebagainya. Belakangan, nama Reverse bermutasi menjadi Reverse Clothing Company, yang sekarang ini dikelola oleh Dxxxt. Menurut Richard, selain karena musik rock dan skateboard, saat itu kemunculan beragam komunitas semacam ini juga didorong oleh keberadaan beberapa film seperti The Warrior (Walter Hill/1979), BMX Bandit (Brian  Trenchard-Smith/1983),Thrashin (David Winters/1986), Gleaming The Cube (Graeme Clifford/1989), dan film-film sejenis yang bercerita mengenai berbagai macam komunitas anak muda di Barat (Eropa Barat & Amerika).(3)

Dari kondisi yang spesifik semacam inilah, dinamika perkembangan industri musik, termasuk perkembangan fashion anak muda di Bandung selalu menemui banyak pembaharuan. Dari mulai jaman celana jeans di Jalan Cihampelas, tas ransel Jayagiri, jaman kaos oblong C-59, clothing lokal, band-band underground, distro, dan seterusnya sampai sekarang.

Saat krisis ekonomi terjadi pada tahun 1998, bisnis yang dijalani Reverse, mengalami masa sulit sampai akhirnya tutup. Mereka tak mampu lagi membeli barang-barang dari luar negeri kerena nilai dolar terhadap rupiah melambung tinggi dan tak terjangkau. Namun kondisi sulit ini justru melahirkan fase baru dalam perkembangan industri clothing Bandung. Helvi vetaran Reverse, kemudian membangun clothing label bernama Airplane yang memulai usahanya pada tahun 1997.

Bukan hanya itu, bersama Dxxxt dan Marin, Helvi membangun record label bernama Fast Foward pada tahun 1999.Airplane yang didirikannya bersama dua rekannya yang lain: Fiki dan Colay, resmi berdiri pada tanggal 8 Februari 1998. Kurangnya modal untuk membeli barang-barang dari luar, membuat daya kreatifitas kedua pemuda ini diasah. Ketika itu mereka berpikir, untuk dapat menghasilkan kaos sesuai dengan keinginan mereka.

Ide-ide membuat desain dipengaruhi oleh kehidupan sehari-hari yang kita senangi aja.. biasanya dari skateboard, musik, dan lain sebaginya. Transformasi Reverse sebagai clothing company, dimotori oleh Dxxxt pada bulan Februari 2004. Didukung oleh Marin, Wendi Suherman dan Indra Gatot sebagai mitra usahanya. Reverse kemudian menjelma menjadi label yang memfokuskan dirinya pada fashion untuk pria. Urban Culture yang menjadi keseharian tim kreatifnya, menjadi inspirasi dalam desain produk-produk Reverse.

Sementara kegemaran skateboard, bmx dan surfing yang ditekuni Dandhy dan teman-temannya, justru memotivasi mereka untuk membuat produk-produk yang mendukung hobi yang mereka cintai. Bukan hal yang mudah untuk menemukan fashion penunjang kegiatan surfing di Bandung pada saat itu. Maka tahun 1996, dari rumah di dago 347 Bandung, mereka mulai memproduksi barang-barang yang menunjang hobi mereka untuk digunakan sendiri. Ternyata apa yang mereka pakai, menarik perhatian teman-teman mereka.

Seperti halnya Airplane, dengan modal patungan seadanya mereka mulai memproduksi barang-barang yang mereka desain untuk kebutuhan hobi mereka itu, untuk dijual di kalangan teman-teman mereka sendiri dengan label ‘347 boardrider co.’ Toko pertamanya dibuka pada tahun 1999 dan diberi nama ‘347 Shophouse’ di Jalan Trunojoyo Bandung. Demikian pula Ouval yang muncul di tahun 1998.

Awalnya juga dibentuk dengan semangat untuk mengelaborasi hobi skateboard para pendirinya. Hobi dan semangat kolektivisme terasa sangat kuat mewarnai kemunculan clothing label dan clothing store pada masa itu. Masih di tahun 1996, Dadan Ketu bersama delapan orang temannya yang lain membentuk sebuah kolektif yang diberi nama Riotic. Kesamaan minat akan ideologi punk, menyatukan ia dan teman-temannya. Riotic menjadi label kolektif yang memproduksi sendiri rilisan musik-musik yang dimainkan oleh komunitas mereka, menerbitkan zines, dan membuka sebuah toko kecil yang menjadi distribusi outlet produk kolektif yang mereka hasilkan. Riotic juga dikenal konsisten dalam mendukung pertunjukan-pertunjukan musik punk rock dan underground yang saat itu kerap diselenggarakan di Gelora Saparua Bandung.

Dalam perkembangannya, eksplorasi desain clothing anak-anak muda Bandung, banyak juga dipengaruhi oleh gaya street fashion Jepang yang terasa lebih eklektik dan eksperimental. Pergeseran kiblat kreatif global dari Amerika ke Inggris/Eropa dalam tiga tahun terakhir ini, juga terasa pengaruhnya. Perubahannya sangat jelas terasa dalam scene musik. Street culture Inggris dan Eropa kemudian menjadi sumber rujukan baru dalam mengelaborasi desain produk-produk clothing kemudian.

Perkembangan musik dan juga street fashion di Bandung mendorong pertumbuhan clothing store (distro) di Bandung. Untuk membesarkan bisnis yang semula dibangun berdasarkan hobi, butuh kedisiplinan tinggi dalam mengelolanya. Bagi clothing company yang muncul belakangan, idealisme dan keterbatasan modal menjadi tantangan yang harus disiasati lebih keras lagi. Karena secara bisnis, mereka harus berhadapan dengan clothing teman-temannya yang muncul dan mapan lebih dulu.

Dari segi pengembangan desain, tidak banyak juga yang melakukan riset dan pengembangan desain secara serius. Akibat dari boom clothing di tahun 2003, follower yang muncul belakangan, banyak yang asal jiplak desain-desain yang sudah ada. Karena untuk membangun sebuah karakter desain yang kuat dibutuhkan waktu dan proses yang lama.

Kini, wabah distro telah menjamur hampir ke seluruh Indonesia, tidak hanya di Bandung. Jakarta sebagai kota metropolitan juga mulai “kejangkit” wabah distro. Walau banyak distro-distro yang mulai bermunculan di Jakarta, tetapi beberapa di antaranya masih berisikan barang-barang dari distro Bandung yang sudah lebih dulu punya nama. Walau ada beberapa distro di Jakarta yang sudah punya nama sepertii Bloop dan Endorse menjual barangnya sendiri disamping barang-barang dari distro Bandung.

Sampai sejauh mana industri ini mampu bertahan, hanya mereka dengan kreatifitas dan disiplin yang tinggi yang mampu menjawabnya.

(WIDI KUSUMA)


Sumber : http://jurnalhollic.multiply.com/journal/item/1



Sejarah Distro bandung

Diposkan oleh webindoshop

Di Kota Bandung – bagi sebagian masyarakatnya – keberadaan berbagai t-shirt seperti yang diperbincangkan di atas bisa jadi merupakan satu hal yang lazim. Demikian juga dengan keberadaan geng motor tua, sepeda bmx, penggemar musik hip-hop, musik elektronik, break dance, hardcore, grindcore, sampai dengan komunitas penggemar musik punk yang tersebar di beberapa tempat di sekitar pojokan kota. Dengan penampilan yang spesifik, beberapa kelompok ini menyebar di sekitar kampus-kampus, pojok-pojok jalan, diskotik, bar, daerah pertokoan, kamar kost, rumah kontrakan, shooping mall, dan lain sebagainya. Di malam Minggu, beberapa komunitas ini biasanya terlihat di sekitar Jalan Dago, Gasibu, BIP, Cihampelas, sampai Jalan Braga. Di Bandung, kebanyakan orang tampaknya memang masih punya banyak waktu luang untuk memikirkan beberapa hal yang mendetail dalam kehidupan sehari-hari mereka. Beberapa hal detail yang kemudian bermuara pada beragam kecendrungan akan gaya hidup, perilaku, dan berbagai aliran pemikiran.

Dadan Ketu, sebutlah demikian. Terlahir di Kota Bandung pada tahun 1973. Pemilik nama ini bukanlah figur yang asing lagi bagi mereka yang akrab dengan komunitas underground Kota Bandung di era pertengahan ‘90-an. Bersama 8 orang temannya, pada sekitar tahun ‘96 ia berinisiatif untuk membentuk sebuah kolektif yang kini dikenal dengan nama Riotic. Melalui ketertarikan akan satu model ideologi yang sama, komunitas ini kemudian mulai memproduksi musik rilisan mereka sendiri, yang kemudian berkembang menjadi sebuah toko kecil yang menjual segala macam pernak-pernik dari mulai kaset, merchandise band, t-shirt dan lain sebagainya.

Lain lagi dengan Dede, yang bersama keempat temannya mendirikan sebuah distro(2) yang bernama Anonim pada tahun 1999. Terutama karena ketertarikan pada musik dan film, kelompok ini kemudian mulai menjual t-shirt yang dipesan secara online melalui internet. Kini selain menjual barang-barang import, mereka juga menjual kaset-kaset underground dan produk-produk dari label clothing lokal, yang konon kabarnya mencapai sekitar 100 label clothing yang muncul bergantian seperti cendawan di musim hujan. Menurutnya, penjualan produk lokal meningkat jumlahnya setelah terjadi krisis ekonomi pada tahun 1996, yang menyebabkan harga barang impor meningkat dan semakin sulit didapat.

Riotic dan Anonim, dua nama ini adalah sedikit dari deretan nama-nama seperti, Harder, Riotic, Monik Clothing, 347 Boardrider & Co., No Label Stuff, Airplane Apparel System, Ouval Research, dan lain sebagainya. Sejak pertengahan ‘90-an, di Kota Bandung memang bermunculan beberapa komunitas yang menjadi produsen sekaligus pelanggan tetap beberapa toko kecil - sebutlah distro - yang menjual barang-barang yang tidak ditemui di kebanyakan toko, shooping mall, dan factory outlet yang kini juga tengah menjamur di Kota Bandung. Berbekal modal seadanya, ditambah dengan hubungan pertemanan dan sedikit kemampuan untuk membuat dan memasarkan produk sendiri, kemunculan toko-toko semacam ini kemudian tidak hanya menandai perkembangan scene anak muda di Kota Bandung, tetapi juga kota-kota lain semisal Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dsb.

Reverse: Markas Kecil di SukasenangAdalah Reverse, sebuah studio musik di daerah Sukasenang yang kemudian dapat dikatakan sebagai cikal bakal yang penting bagi perkembangan komunitas anak muda di Kota Bandung pada awal era ‘90-an. Di awal kemunculannya pada sekitar tahun ‘94, semula Richard, Helvi, dan Dxxxt (3 orang pendiri pertama dari Reverse), hanya memasarkan produk-produk spesifik yang terutama diminati oleh komunitas penggemar musik rock dan skateboard. Dapat dikatakan, komunitas ini kemudian merupakan simpul pertama bagi perkembangan komunitas ataupun kelompok subkultur anak muda pada saat itu. Ketika semakin berkembang, Reverse kemudian menjadi sebuah distro yang mulai menjual CD, kaset, poster, artwork, asesoris, termasuk barang-barang impor maupun barang buatan lokal lainnya.

Kemudian bermunculan sederet komunitas baru yang lebih spesifik lagi. Dari yang semula hanya didatangi oleh penggemar musik rock dan komunitas skateboard, Reverse mulai didatangi oleh beberapa kelompok yang berasal dari scene yang lain. Dari yang meminati musik pop, metal, punk, hardcore, sampai pada kelompok skater, bmx, surf dan lain sebagainya. Belakangan, nama Reverse bermutasi menjadi Reverse Clothing Company, yang sekarang ini dikelola oleh Dxxxt. Menurut Richard, selain karena musik rock dan skateboard, saat itu kemunculan beragam komunitas semacam ini juga didorong oleh keberadaan beberapa film seperti The Warrior (Walter Hill/1979), BMX Bandit (Brian Trenchard-Smith/1983),Thrashin (David Winters/1986), Gleaming The Cube (Graeme Clifford/1989), dan film-film sejenis yang bercerita mengenai berbagai macam komunitas anak muda di Barat (Eropa Barat & Amerika).(3)

“Dulu gua kalo mau nyari posternya Frank Zappa nggak mungkin dapet di tempat lain, pasti gua nyarinya ke Reverse!”, ujar Edi Khemod yang merupakan drummer band cadas bernama Seringai, sekaligus seorang penulis, produser rumah produksi Cerahati dan juga salah seorang anggota dari Biosampler; sebuah kelompok seniman multimedia yang sering muncul dalam aktifitas artistik di club scene kota Bandung dan Jakarta. Kebutuhan yang spesifik semacam inilah yang kemudian tertularkan pada beberapa komunitas dan distro-distro pada generasi sesudahnya. Kembali menurut Richard, menurutnya mereka yang datang ke Reverse itu kebanyakan mencari barang yang tidak terdapat di toko, shooping mall, atau departemen store. Hal ini juga diakui oleh Dadan dan Dede. Menurut mereka rata-rata yang datang ke distro itu orang-orang yang punya kebutuhan spesifik yang berbeda dengan kebutuhan orang kebanyakan. “Karena itu mereka mencari sesuatu yang lain, yang sulit ditemukan di wilayah-wilayah yang lebih mapan”, ujar Richard dalam sebuah wawancara. Untuk saya sendiri hal semacam ini tentu saja dapat dikatakan wajar. Kebanyakan anak muda memang punya tabiat untuk selalu mencari pengalaman yang baru dan berbeda.

Tampaknya dari kondisi yang spesifik semacam inilah, dinamika perkembangan industri musik, termasuk perkembangan fashion anak muda di Bandung selalu menemui banyak pembaharuan. Dari mulai jaman celana jeans di Jalan Cihampelas, tas ransel Jayagiri, jaman kaos oblong C-59, clothing lokal, band-band underground, distro, dan seterusnya sampai sekarang. “Perjumpaan yang terus menerus dengan hal/orang/barang yang sama, kadang-kadang menimbulkan perasaan jenuh/bosan/muak; bila tak tertahankan lagi, orang ingin keluar/melepaskan diri dari situasi itu: ingin tampil beda.” Demikian urai Yuswadi Saliya, seorang arsitek yang tinggal di Bandung ketika membalas pertanyaan dalam email saya untuk kasus ini. Saya pikir demikianlah adanya, Kota Bandung memang memiliki segudang rutin yang memaksa setiap warganya untuk terus bergerak mencari sesuatu yang baru dan berbeda. Kini beragam komunitas anak muda di kota Bandung terus bermunculan. Tidak lagi di Sukasenang, tetapi juga menyebar ke seluruh pelosok kota, mulai di bilangan Jalan Setiabudi (Monik/Ffwd Records), Citarum (347/EAT – Room No. 1), Moch. Ramdan (IF), Balai Kota (Barudak Balkot), Sultan Agung (Omuniuum), Saninten (Cerahati/Biosampler), Kyai Gede Utama (Common Room/ tobucil/Bandung Center for New Media Arts dan Jendela Ide), sampai ke daerah Ujung Berung (Ujung Berung Rebel/Homeless Crew), dsb.

“Karena Bandung kotanya kecil, jadi mau ngapa-ngapain gampang…lagian orang-orangnya juga kekeluargaan, cair banget, baturlah, semua dianggap sama.” Ujar Dede pada suatu kesempatan. Hal ini juga kembali disepakati oleh Dadan Ketu. Menurutnya, mereka yang berusaha di bidang clothing lokal tidak menemui kesulitan yang berarti ketika mereka harus berproduksi. “Mau cari bahan gampang pisan, tinggal ke Jalan Otista, Tamim, Cigondewah, Cimahi, Majalaya, terus tukang nyablon juga di sini mah banyak pisan, jadi nggak susah.”, jelasnya.

Paska 1990: Desa Global, GMR, dan MTVTidak hanya di era ‘90-an – apabila kita lihat beberapa catatan di atas – sejak awal kemunculannya harus diakui Kota Bandung memang banyak menerima pengaruh dari Barat (Eropa Barat & Amerika). Namun, pada periode berikutnya tidak dapat dipungkiri kalau ada pengaruh lain yang tak kalah penting bagi perkembangan scene anak muda di Bandung, yaitu media. Sebagai contoh di bidang musik misalnya, melalui tangan dingin seorang Samuel Marudut (alm.), pada tahun ‘92-an sebuah radio yang bernama GMR menjadi satu-satunya radio di Indonesia yang membuka diri untuk memutarkan rekaman demo dari band-band baru yang ada di kota ini, sehingga ikut memicu pertumbuhan scene musik yang ada pada saat itu. Selain memicu pertumbuhan komunitas musik di Kota Bandung, radio ini juga ikut mempopulerkan keberadaan beberapa band yang berasal dari luar kota Bandung.

Selain itu, perkembangan di bidang teknologi media & informasi juga secara radikal mampu mendorong perkembangan budaya kota di Bandung kearah yang lebih jauh. Salah satu contohnya adalah perkembangan teknologi rekaman yang memungkinkan band-band baru merekam musik mereka dengan menggunakan komputer, sehingga tidak lagi harus bersandar pada industri mainstream & produk impor. Saat ini, industri musik di Bandung sudah biasa diproduksi di studio-studio kecil, rumah, maupun di kamar kost. Selain itu, perkembangan di bidang teknologi informasi juga memudahkan setiap komunitas yang ada untuk berhubungan dan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Melalui jaringan internet yang sudah berkembang sejak tahun 1995-an, Kota Bandung saat ini sudah menjadi bagian dari jaringan virtual yang semakin membukakan pintu menuju jaringan global.

Kehadiran MTV pun setidaknya memiliki peran yang tidak sedikit, karena melalui stasiun inilah beberapa band underground Bandung mendapat kesempatan untuk didengar oleh publik secara lebih luas. Selain itu, para presenter MTV siaran nasional pun tidak segan-segan untuk memakai produk-produk dari clothing lokal yang berasal dari Kota Bandung, sehingga produk mereka menjadi semakin populer. Dampaknya tentu saja tidak kecil. Selama beberapa tahun terakhir warga Kota Bandung mungkin sudah mulai terbiasa dengan jalan-jalan yang macet pada setiap akhir minggu. Selain menyerbu factory outlet, para pengunjung yang datang ke Kota Bandung pun biasanya ikut berbondong-bondong mendatangi distro-distro yang ada, sehingga memicu pola pertumbuhan yang penting, terutama dari segi ekonomi.

Melalui keberadaan beberapa komunitas anak muda yang senantiasa menyediakan barang-barang yang mereka produksi secara mandiri, setidaknya kita dapat melihat berbagai kumpulan tanda yang baru yang berbeda dengan masa sebelumnya. Apabila pada masa sebelumnya komunitas anak muda di Bandung sangat bergantung pada industri mapan dan berbagai produk impor, saat ini beberapa komunitas yang ada sudah mampu memproduksi kebutuhan mereka secara independen. Dalam beberapa kesempatan, wacana budaya perlawanan (counter culture) pun kerap mewarnai keberadaan komunitas ini. Diantara beberapa perilaku komunitas anak muda yang disebutkan tadi, setidaknya kita bisa melihat ini sebagai sebuah sikap politik yang membangun bentukan watak yang khas. Bagi beberapa komunitas anak muda di Bandung, musik dan fashion saat ini bukan lagi hanya sekedar trend. Musik dan fashion dapat juga dilihat sebagai bentuk ekpresi kemandirian politik yang mampu mengakomodasi berbagai aspirasi personal yang mereka miliki. Untuk itu, saya rasa dalam konteks perbincangan mengenai perkembangan kelompok subkultur di kota Bandung, sebetulnya musik dan fashion juga dapat dilihat sebagai instrumen yang mampu menjelaskan berbagai pandangan dan perbedaan yang menyertai keberadaan komunitas-komunitas ini.

Pertumbuhan yang pesat yang sangat ditunjang oleh keberadaan beberapa media seperti stasiun TV, radio, majalah, fanzines, dan terutama internet, terus saja mendorong perkembangan komunitas anak muda di Bandung. Selain semakin memperjelas keberadaan beberapa komunitas yang ada, kemunculan berbagai macam media juga menambah perluasan jaringan sampai ke kota-kota lain di luar Bandung, malah sampai ke luar negeri. Ketika mulai merilis kaset dibawah label 40124 pada pertengahan ’90-an, Richard mengaku pernah mendapatkan pesanan kaset rilisannya dari seorang penggemar musik-musik underground dari Jepang, yang kebanyakan memesan melalui internet. Lewat label 40124 ini, pada tahun 1996 Richard juga sempat merilis album kompilasi legendaris yang diberi judul “masaindahbangetsekalipisan”, yang berisi kumpulan lagu dari beberapa band lokal seperti Full of Hate, Rotten to The Core, Sendal Jepit, Cherry Bombshell, Puppen, Balcony, dsb. Sementara itu, Dadan Ketu menyatakan kalau sekarang ini memang sudah sangat biasa kalau ada salah seorang pengunjung distro di Bandung datang dari luar negeri, semisal Singapura atau Malaysia. “Mereka datang biasanya langsung ngeborong, bawa kaset 100 biji untuk dijual lagi di negeri asalnya, ada yang bayar kontan, ada juga yang nyicil,” ujarnya.

Wujud dari terbentuknya jaringan yang meluas ini sebetulnya sudah semakin terasa sejak tahun ‘97. Pada bulan Agustus 1997 sebuah label rekaman punk dari Perancis yang bernama Tian An Men 89 Records merilis sebuah kompilasi yang berjudul “Injak Balik! a Bandung HC/Punk comp”. Kompilasi ini didukung oleh sejumlah band Bandung seperti Puppen, Closeminded, Savor Of Filth, Deadly Ground, Piece Of Cake, Runtah, Jeruji, Turtles Jr, dan All Stupid. Kebanyakan subject matter dari musik dalam album kompilasi ini berisi berbagai statemen politik yang disampaikan secara lugas oleh setiap band yang ikut terlibat di dalam proyek ini. Tidak hanya berhenti di situ, pada tahun 1999, label lokal yang bernama FastForward Records kemudian merilis beberapa album dari band yang berasal dari luar negeri seperti The Chinkees (Amerika), Cherry Orchard (Perancis), 800 Cheries (Jepang), dan lain sebagainya. Menurut Marin, salah seorang pendiri dari FastForward Records, setidaknya media-media komunikasi seperti internet, mesin fax dan jaringan telepon punya andil besar dalam proses produksi album dari band-band ini. Sekarang, label lokal yang merilis musik yang berasal dari luar negeri sudah bukan barang yang aneh lagi. Malah, beberapa band lokal di Bandung juga sudah banyak yang berkesempatan dirilis oleh label di mancanegara. Beberapa diantaranya adalah Homicide, Domestik Doktrin, Jasad, dsb.
Perluasan jaringan yang mempertautkan perkembangan di bidang musik dan fashion dengan perkembangan media dan teknologi informasi ini setidaknya melahirkan sebuah kombinasi perkembangan (kebudayaan) yang baru, baik dari segi ideologi sampai pada manifestasinya dalam pola kehidupan sehari-hari sebagian komunitas anak muda di Bandung. Hal ini menunjukan bahwa bagaimanapun perkembangan yang ada di kota Bandung tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan setiap gejala perkembangan di tingkat global. Seiring dengan perkembangan jaman, sampai saat ini scene anak muda di Kota Bandung masih terus tumbuh untuk terus melengkapi pola perkembangannya dengan wajah dan berbagai versinya yang baru. Jangan kaget kalau tiba-tiba anda bertemu dengan sekelompok anak muda dengan gaya yang identik dengan gaya anak muda di belahan dunia yang lain. Kota ini memang sedari dulu sudah menjadi bagian dari kota-kota lain di seluruh dunia. Salut! Selamat datang di Kota Bandung!


Sumber :
http://cannizaro.wordpress.com/

Kuliner Bandung

Diposkan oleh webindoshop

  • Jajanan kaki lima / warung tenda
Bubur ayam pak Zenal
alamat : Jl. Ir. H. Juanda No. 244
kontak personal : Bpk. / Ibu Zenal
jabatan : Pemilik
spesifikasi makanan : Bubur Ayam
biaya perorang (Rp) : 5.000 - 10.000
service/pelayanan
kapasitas : 20 orang
waktu usaha : 06.00 - 24.00
pemesanan tempat : tidak
pengiriman makanan : ya
menu favorit : Bubur Ayam Spesial
cara pembayaran : Tunai

Colenak Murdi Putra
alamat : Jl. A. Yani No. 733
telepon : 022 - 7275037
kontak personal : Heni
jabatan : Pengelola
spesifikasi makanan : Colenak
biaya perorang (Rp) : 5.000 - 10.000
kapasitas : 20 orang
waktu usaha : 07.00 - 18.30
pemesanan tempat : tidak
menu favorit : Colenak

Es Cendol Elizabeth
alamat : Jl. Cihampelas No. 107, Depan Sapu Lidi
spesifikasi makanan : Aneka Minuman (cendol, dll)
biaya perorang (Rp) : 2.000 - 10.000
kapasitas : 20 orang
waktu usaha : 09.30 - 17.00
pemesanan tempat : tidak
menu favorit : Es Cendol

Youghurt Cisangkuy
alamat : Jl. Cisangkuy No. 66
telepon : 022- 7273956
kontak personal : Ibu Mul
jabatan : Pengelola
spesifikasi makanan : Bakmi/Baso, Rujak / Asinan, Nasi Goreng, Aneka Youghurt
biaya perorang (Rp) : 20.000 - 25.000
kapasitas : 100 orang
waktu usaha : 08.00 - 17.00
pemesanan tempat : ya
menu favorit : 1. Mie baso, 2. Gado-gado, 3. Aneka Youghurt
cara pembayaran :Tunai

Sate Anggrek
Jln. Anggrek, tepatnya di seberang Suis Butcher Riau.
Kalo dari jl. Martadinata arah dago, diperempatan jl. Anggrek belok kiri.
Ini tempat sate yg cukup tenar di Bandung. Ennaaaaak bgt,trus kenyang. Murah lg harganya. Tp tempatnya rame terus,jd harus agak2 sabar ya nunggu giliran dapet duduk.



Batagor Riri (Paskal Hypersquare)
alamat : Jl. Pasirkaliki No. 25-27
telepon : 022 - 86060594
kontak personal : Ferdian
jabatan : Owner
email : fales@batagor.com
spesifikasi makanan : Batagor, Siomay/Baso Tahu
biaya perorang (Rp) : 10.000 - 25.000
kapasitas : 30 orang
waktu usaha : 09.00 - 18.30
pemesanan tempat : ya
menu favorit : 1.Batagor, 2.Siomay, 3.Baso campur, 4.Youghurt, 5.Juice
cara pembayaran :Tunai

or ada lagi cabangnya,
[Batagor-Yoghurt] "Riri"Jl.Burangrang No.41Bdg (10.00-20.00) nb:Hari Senin tutup dan ada cabangnya di ruko Promade dekat XTRANS travel Jl. Cihampelas.


Lotek & Rujak Cipaganti
Alamat : Jl. Cipaganti No. 75Y 
kontak personal : Ibu Asih 
jabatan : Pemilik 
spesifikasi makanan : Lotek, Rujak / Asinan
Biaya perorang (Rp) : 5.000 - 10.000 
kapasitas : 15 orang 
waktu usaha : 08.00 - 17.00 
pemesanan tempat : tidak 
menu favorit : Lotek, Rujak

Martabak San Francisco
alamat : Jl. Burangrang No. 42  
telepon : 022 - 7312192, 0811225484 
kontak personal : Ibu Francisca 
jabatan : Pemilik 
spesifikasi makanan : Martabak
biaya perorang (Rp) : 12.000 - 38.000 
kapasitas : 150 orang 
waktu usaha : 16.00 - 23.30 
pemesanan tempat : ya 
menu favorit : martabak manis spesial campur keju
cara pembayaran :Tunai

BaksoEnggal
terletak di Jl.Burangrang deket SMU BPI ini kita dapat nuansa self service alias bisa gambil bakso/pangsit/bakmi jenis apa saja yang disuka berikut beserta jumlahnya ... bebas deh ... yg penting kudu dihitung sama petugasnya lalu bayar deh he2x ... di sini merupakan tempat favorit saya terutama kalau malam atau pas ujan wuih ..... mantap dan pas rasanya.

Pizza Cafe Asix
Meski pizza ini tidak setebal Pizza Hut namun cukup bikin lidah enjoy akan gurih serta crispy-nya pizza ini. Pizza Cafe Asix ini bertempat di Jl. Telaga Bodas 25 [dekat dengan Jl. Burangrang].
 
Bandoeng Milk Center-BMC
sebagai penyedia susu sapi segar sejak tempo doeloe, BMC juga menyediakan aneka makanan seperti batagor dan soes diplomat yang ok punya. Lokasi Jl. Aceh (dibelakang masjid Jl. Wastu Kencana Bandung, jadi pas perempatan mesjid tsb belok langsung kiri.

Bakso_Cipaganti
bakso yang sarar daging sapi ini dipadu dgn pangsit goreng yang berbentuk flat [datar] membuat bakso ini sangat maknyus meski dimakan polosan (tanpa saos & kecap) yg terletak di jl. Cipaganti dekat Travel Cipaganti.

Iga_Bakar_Si_Jangkung
terletak bersebelahan dengan Bakso Cipaganti. Iga Bakarnya mmg mak nyus banget .Memang ada menu yang lain namun saya belum nyoba seperti Sate_Potong,Tongseng,Krengsengan and Nasi Gorengnya. Sudah ada cabangnya di The Kiosk lt.2 J. Dago (satu gedung dengan Pizza, Hanamasa dan Disc Tarra Dago).
Kayanya gw dulu pernah liat acara kuliner di TV, lokasinya di daerah Cihampelas dey....mana yg bener ya?

Soto Semarang Bu Pri
soto, perkedel dan garang asem-nya memang ok punya dan dijumpai di Jl Sukamaju No. 34/8(depan kantor BRI dan dekat Steak Passadena)... ancer2x bisa masuk dari Jl. Sederhana (pasar Sederhana).

Es Campur Bungsu
"Es Bungsu" Jl. Veteran No.29 sebelah batagor Kingsley. Es nya enak karena ada bubur mutiara dicampur kelapa muda dan apukat.Kl minum di sana serasa Mick Jagger menemani kita lha ... fotonya beserta framenya terpasang di dindingnya lengkap dengan personil The Rolling Stone ...lihat aja sang owner ...mirip Mick Jagger ... nge-fans kali ...kadang dianya juga nyanyiin buat tamunya yg lagi makan..

klo es bungsu ini mang enak banget, gw dah 2x nyobain....mie yaminnya juga enak...ada somay juga, ooo iya ada lontong kare juga loh...pokoknya enak2...

Tiramisu Kukus
"La Pattiserie" areal Hotel Grand Preanger Jl. Asia Afrika Bandung.Pie dengan topping strawberry (Strawberry Fruit Tartlette) dan buah kiwi ok juga tuh dicoba.

Warung Nasi C'MAR
warung ini buka mulai jam 19.30-06.00 di Jl. Braga Gg. Affandi deket Pasar Cikapundung/Jl. Cikapundung Barat ... biar buka malam dan makan di pinggir jalan ...but harus rela antre untuk self service alias pilah pilih lauk sebelum sang owner dengan ramah menghitung sambil dengan ramah menyapa "Asep [pemuda]/Geulis [pemudi]" ... yang most wanted makan di sini adalah Babat, Gule, tempenya juga mantap , semur jengkol, kacang merah, beserta sayur buncis dll].

Mie Yogya Pak Karso
bakmi goreng dan bakmi kuah ala masakan jawa ini memang cukup mengundang selera terlebih bagi yang kangen dengan masakan ini yang notabene berasal dari Yogya.Buka dari siang sampai malan hari di Jl. ABC Bandung.

Bubur Ayam & nasi Kuning “AEP”
Jl. ABC deket pintu masuk Kantor POS Bandung Jl.ABC [buka pagi hari, hari kerja]

Warung Kopi Purnama
Warung kopi ini memang bergaya klasik dan memang telah beroperasi berpuluh2x tahun yang lalu. Di tempat ini cukup banyak orang-2x melakukan pertemuan informal sambil makan roti dadar, mie kocok eh ada juga mie goreng yang bisa diorder dari warung seberang serta tidak ketinggalan kopinya yang muantep banget .Buka dari jam 06.00-18.00 dan berlokasi di Jl. Alkateri No.22 Bandung.

Lotek Alkateri
Makanan dari sayur2xan ini dengan bumbu kacang yang lazim disebut lotek memang benar-2x mantap, gak percaya? coba saja datang di dekat perempatan Jl.Alkateri- Jl. ABC Bandung ini.

Sop Kaki Sapi dan Babat khas Jakarta
bertempat di Jl. Banceuy tepat di depan toko Kilat ini buka malam hari ini memang mak nyus banget rasanya.Apalagi kl Jumat/Sabtu malam wuih rame banget, semoga dagingnya masih ada kalau tidak biasanya atinggal jeroan-nya aja.

Sop Kaki Kambing
kalo yang pengin sop kambing dengan kuah yang kaya rempah2x ya ada juga di Jl. Banceuy [persis pertigaan Jl. Pecinan Lama ke arah Pasar Baru] tepat di depan fabriek kopi Aroma ini buka malam hari ini memang mantep banget rasanya.

Nasi Goreng Ikan Jambal + Pete
warung tenda nasgor terletak Jl. Banceuy [persis pertigaan Jl. Pecinan Lama ke arah Pasar Baru, tetangga-an dengan warung Sop Kaki Kambing]. Cocok bagi untuk lidah penggila NasGor denga fitur Ikan Jambal & Pete.

Kopi Aroma
Jl. Banceuy No.51 pas din pojok Jl. Pecinan Lama . Tersedia Kopi jenis Arabika & Robusta [ atau mixed]tinggal pilih yg halus atau masih dalam bentuk bijian. Kopii ini memang moy ...krn menurut si pemilik Pak Widya kopi ini sebelum diolah harus disimpan 8 tahun untuk menghilangkan kadar asamnya ...ga percaya datang aja ke tokonya ... langsung tercium aromanya that's why it's called Aroma Koffie Fabriek since 1st generation [now contiued by 3rd generation]

Lamang Papai Acu Minang
Terletak di deretan warung tenda Jl..Cikapundung Makanan khas Minang ini terdiri dari lamang, ketan hitam, lupis dengan parutan kelapa serta gula cair.

SatePadang
Sate Padang ini memang nendang banget di+ kuahnya yg panas & bawang gorengnya yg renyah membasahi daging sapinya yang empuk dan gurih. Terletak di deretan warung tenda Jl..Cikapundung [tetangga-an dengan [Lamang Papai Acu Minang].

Kupat Tahu Petis Pak Djamari
depan Jl. Ciakpundung Barat deekat ATM BNI [depan apotik Cikapundung] dari pagi 07.00-10.00 hari kerja . Tips nya lebih baik bawa sendok & piring sendiri atau dibungkus sekalian.

Mie Baso Ceker Ayam
Mie baso dengan kuah yang ceker ayam serta bihun yang maknyus tenan ini dapat dijumpai di Jl. Braga Bandung, depan knator Kadin Jabar/-New Braga Club seberang Center Point Sport Store, buka 20.00-04.00

Brownies Bawean
Brownies ini bisa didapat Jl. Bawean No.4 Bandung. Dekat dengan Siliwangi Driving Course Jl. Lombok. Tersedia brwonies kukus dan juga black forest kukus mau pesan yang pake rhum tinggal ditambahin kira2x nunggu 5 menit.Oh ya coklat wafel enak lho. Buka Senin-Sabtu [07.00-17.00]. Minggu/hr besar buka 07.00-16.00. Ada cabang lain di jl. RE Martadinata No. 140.

Warung Nasi Sunda
depan persis Brownies Bawean ya di Jl. Bawean juga ...nasi beras merahnya enak dan di sini tergolong murah/terjangkau.

Sumber : http://missrani.multiply.com/journal/item/4/Wisata_ke_Bandung_Edisi_kuliner_Part_1

Reser: Tahu - Cara membuat tahu

Diposkan oleh webindoshop

  1. Kedelai ditampi untuk dipilih biji yang besar.
  2. Kedelai dicuci, lalu direndam dalam air besar selama enam jam.
  3. Kedelai dicuci lagi selama setengah jam.
  4. Kedelai dibagi-bagi dan diletakkan di dalam ebleg, yang terbuat dari bambu atau plastik.
  5. Kedelai digiling sampai halus, dan butir kedele mengalir ke dalam tong penampung.
  6. Butir kedelai langsung direbus sampai mendidih di dalam wajan berukuran besar.
  7. Bubur kedelai lalu dipindahkan dari wajan ke bak atau tong untuk disaring dengan kain belacu atau kain mori kasar yang telah diletakkan pada sangkar bambu. Agar semua sari dalam bubur kedelai tersaring semua, pada kain itu diletakkan sebuah papan kayu dan seseorang naik di atasnya dan menggoyang-goyangnya. Limbah penyaringan, yang disebut ampas tahu, diperas lagi dengan menyiram air dingin, sampai tidak mengandung sari lagi. Penyaringan dilakukan berkali-kali hingga bubur kedelai habis.
  8. Air saringan yang tertampung dalam tong warna kuning atau putih dicampur dengan asam cuka agar menggumpal. Selain asam cuka, dapat juga ditambahkan air kelapa, atau cairan whey (air sari tahu bila tahu telah menggumpal) yang telah dieramkan, atau bubuk batu tahu (sulfat kapur).
  9. Air asam dipisahkan dari gumpalan atau jonjot putih dan disimpan, sebab masih dapat digunakan lagi. Gumpalan atau jonjot tahu yang mulai mengendap dituangkan dalam kotak berukuran misalnya 50 x 60 cm2 dan dialasi kain belacu. Adonan tahu kotak dikempa selama satu menit, sehingga air yang masih tercampur dalam adonan tahu itu terperas habis. Adonan tahu berbentuk kotak yang sudah padat dipotong-potong, misalnya dengan ukuran 6 x 4 cm2. Tahu pun siap dijual.


Tahu

Diposkan oleh webindoshop

Tahu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Tahu

Tahu adalah makanan yang dibuat dari kacang kedelai yang difermentasikan dan diambil sarinya. Berbeda dengan tempe yang asli dari Indonesia, tahu berasal dari Cina, seperti halnya kecap, tauco, bakpau, dan bakso. Tahu adalah kata serapan dari bahasa Hokkian (tauhu) (Hanzi: 豆腐, hanyu pinyin: doufu) yang secara harfiah berarti "kedelai yang difermentasi". Tahu pertama kali muncul di Tiongkok sejak zaman Dinasti Han sekitar 2200 tahun lalu. Penemunya adalah Liu An (Hanzi: 劉安) yang merupakan seorang bangsawan, cucu dari Kaisar Han Gaozu, Liu Bang yang mendirikan Dinasti Han.

Di Jepang dikenal dengan nama tofu. Dibawa para perantau China, makanan ini menyebar ke Asia Timur dan Asia Tenggara, lalu juga akhirnya ke seluruh dunia.

Sebagaimana tempe, tahu dikenal sebagai makanan rakyat. Beraneka ragam jenis tahu yang ada di Indonesia umumnya dikenal dengan tempat pembuatannya, misalnya tahu Sumedang dan tahu Kediri.

Aneka makanan dari tahu antara lain tahu bacem, tahu bakso, tahu isi (tahu bunting), tahu campur, pergedel tahu, krupuk tahu, dan lain-lain.


Tahu Sumedang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Tahu Sumedang adalah tahu khas yang berasal dari daerah Sumedang, Jawa Barat

Tahu Sumedang
Tahu Sumedang dalam keranjang rotannya yang khas

[sunting] Sejarah

Bermula dari kreativitas yang dimiliki oleh istri Ongkino, yang memang semenjak awal sebagai orang yang pertama kali memiliki ide untuk memproduksi Tou Fu (dari bahasa Tionghoa yang berarti sama) yang lambat laun menjadi berubah nama menjadi "Tahu".

Tahun demi tahun, Ongkino beserta istri tercinta terus menggeluti usaha mereka hingga sekitar tahun 1917 anak tunggal mereka Ong Bung Keng menyusul kedua orang tuanya ke tanah Sumedang. Bung Keng kemudian melanjutkan usaha kedua orang tuanya yang sampai keduanya memilih kembali ke tanah kelahiran mereka di Hokkian, Republik Rakyat Cina.

Melalui alih generasi Ong Bung Keng, anak tunggal Ongkino, terus melanjutkan usaha yang diwariskan dari kedua orang tuanya hingga akhir hayatnya di usia 92 tahun. Di balik kemasyhuran tahu Sumedang ada pula kisah yang berbau mistik, seperti apa yang diceritakan cucu dari Ongkino, Suryadi. Sekira tahun 1928, konon suatu hari tempat usaha sang kakek buyutnya, Ong Bung Keng, didatangi oleh Bupati Sumedang, Pangeran Soeria Atmadja yang kebetulan tengah melintas dengan menggunakan dokar dalam perjalanan menuju Situraja.

Kebetulan, sang Pangeran melihat seorang kakek sedang menggoreng sesuatu. Pangeran Soeria Atmadja langsung turun begitu melihat bentuk makanan yang amat unik serta baunya yang harum. Sang bupati, Pangeran Soeria Atmadja kemudian bertanya kepada sang kakek, "Maneh keur ngagoreng naon? (Kamu sedang menggoreng apa?)". Sang kakek berusaha menjawab sebisanya dan menjelaskan bahwa makanan yang ia goreng berasal dari Tou Fu China. Karena penasaran, sang bupati langsung mencoba satu. Setelah mencicipi sesaat, bupati secara spontan berkata "Enak benar masakan ini! Coba kalau kamu jual, pasti laris!", dengan wajah puas.

Tak lama setelah kejadian ini, Tahu Sumedang digemari oleh penduduk Sumedang dan kemudian sampai ke seluruh Indonesia





15.8.09

Wayang Rama & Shinta

Diposkan oleh webindoshop
14.8.09

Bandung Tourist Map

Diposkan oleh webindoshop

Bandung Tourist Map - Peta Wisata Kota Bandung
Download gratis di Webindoshop.com